Home Tokoh Generasi Milenial, Investasi Politik Jokowi

Generasi Milenial, Investasi Politik Jokowi

Penulis : Suhendra Atmaja, S.Sos, Msi, Lm Dosen Senior STIKOM InterStudi Jakarta

52
0
SHARE
Generasi Milenial, Investasi Politik Jokowi

Keterangan Gambar : Suhendra Atmaja, S.Sos, Msi, Lm Dosen Senior STIKOM InterStudi Jakarta


Terobosan baru kembali dilakukan pemerintahan Jokowi - Ma'ruf Amien, dengan menunjuk 7 (tujuh) Staf Khusus kepresidenan dari kalangan milenial, atau generasi yang lahir pada rentang tahun 1985-1997  atau generasi Z.
Ketujuh (7) pejabat milenial disekeliling Jokowi telah banyak dilansir di media,  berusia sangat muda,berusia antara 25-37 tahun. Tidak ada yang salah dalam penunjukan (tujuh) milenial ini, positifnya adalah Presiden Jokowi bisa menerima masukan yang sungguh sangat bermanfaat untuk pemerintahan dan negara.
Dalam sebuah kesempatan, Presiden Jokowi mengatakan Staf Khusus milenial ini akan menjadi partner pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan kekinian, "Mereka akan menjadi teman diskusi saya, dalam pengambilan keputusan," ujar Jokowi dalam sebuah kesempatan.
Ada rasa bangga dan haru terkait penunjukan orang-orang muda di pemerintahan, artinya anak-anak memiliki kesempatan yang sama dengan kamu experience atau kalangan orang tua untuk bersaing sehat dan bahu-membahu membangun Indonesia. 
"Keren, kesempatan anak-anak muda di pemerintahan benar-benar terwujud," ujar Suhendra Atmaja, Dosen Senior STIKOM InterStudi.
Penunjukan anak muda dalam pemerintahan sebenarnya telah banyak dilakukan oleh pemerintahan di banyak negara. Contohnya,  ditujuknya Syeq Saddiq Syeq Abdul Rahman, menjadi Menteri Pemuda dan olahraga Malaysia saat berusia 25 tahun.
Atau Shamma Al Mazrui, menjadi Menteri Urusan Pemuda Emirat Arab di usia 24 tahun. Atau Simon Haris, Alumni  Institut Teknologi Dublin menjadi Menteri Kesehatan Irlandia, Diusia 29 tahun, lahir 17 Oktober 1986. Indonesia sebenernya telah menunjuk Nadiem Makariem sebagai Menteri termuda di usia 35 tahun tapi penunjukan Stafsus Presiden Jokowi menjadikan warna tersebdiri bagi anak-anak muda milenial.
Penunjukan anak-naka muda di pemerintah sebagai Staf Khusus membawa marwah positif agar Indonesia bisa maju dan mendunia, dengan karakter anak muda yang pantang menyerah.
Investasi Politik
Secara politik, penunjukan orang-orang muda atau generasi milenial ini adalah investasi politik Jokowi untuk pemerintahan 10 hingga 20 tahun ke depan. Apalagi anak tertua Jokowi, Gibran Rakabuming sudah masuk ke dunia politik atau  dipastikan maju sebagai kontestan calon walikota Solo pada tahun ini. Dan menurut penulis, tidak ada yang salah salam Investasi politik, apalagi hal tersebut bermanfaat untuk orang banyak.
Tak bisa dipungkiri, pada 10-20 tahun kedepan, generasi milenial akan menjadi pemimpinan di era pemerintahan baru dan langkah yang dilakukan Jokowi adalah langkah ‘’Santuy’ atau strategi yang tepat untuk kepemimpinan kedepan.
Kedepan, Generasi milenial dianggap adalah pemimpinan masadepan d negara ini, meskipun generasi ini butuh Experience dan butuh bimbingan dan bantuan para orang tua untuk pengambilan keputusan-keputusan karena lagi lagi butuh kematangan dalam pengambilan keputusan strategis dan beresiko.
Seharusnya generasi Z, ini tidak boeh sombong apalagi jumawa. Generasi milenial tidak perlu malu-malu untuk terus bertanya kepada 'orang tua' atau generasi diatasnya ketika membuat kebijakan, apalagi kebijakan tersebut bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat. 
Diyakini, Kelemahan generasi milenial adalah dalam hal pengambilan keputusan. Karena jiwa muda, generasi milenial disinyalir, ketika mengambil keputusan, harus menghasilkan efek dalam 24 jam, padahal ini dibutuhkan kesabaran, sebelum merubah kembali keputusan baru. 
Masih banyaknya pejabat di pemerintahan yang berusia 60 tahun keatas, harusnya sudah sudah tidak perlu terjadi lagi jika regenerasi benar-benar dilakukan secara baik dan masif.  Penunjukan pejabat berumur tersebut lebih  karena pengalaman dan bisa juga karena faktor politik.
Gagalnya generasi milenial yang memimpin dalam sebuah lembaga atau departemen, bisa dikatakan kurangnya opportunity yang diberikan, sehingga generasi Z, menjadi minim pengalaman. Satu hal lagi yang harus diperhatikan generasi milenial ketika memimpin adalah perlunya keseimbangan emosial, hal ini bisa dimaklumi mengingat usia mereka yang masih relatif muda.
Kedepan kita berahrap kaum muda dengan rentang usia 25-35 tahun banyak berada di pemerintahan dan menjadi pemimpina di Lembaga-lembaga pemerintah, dengan  menjual konsep kekinian dan mengedepankan kepetingan masyarakat dengan pemecahan masalah yang cepat, taktis dan kematangan yang mumpuni, semoga.